Pariwisata adalah primadona

Sektor pariwisata merupakan industri terbesar di dunia yang memiliki perkembangan sangat pesat. Sementara itu, berdasar laporan The Travel & Tourism Competitiveness Report yang dirilis oleh WEF (World Economic Forum) 2019, Indonesia berada di peringkat 40 dari 140 negara. Sebelumnya di tahun 2017, Indonesia berada di peringkat 42. Di tingkat Asia Tengggara, indeks daya saing pariwisata Indonesia berada di peringkat keempat.

sata Indonesia Tahun 2019

Capaian ini menjelaskan bahwa sektor pariwisata Indonesia dalam dua tahun terakhir memiliki peningkatan yang baik. Indeks daya saing yang dirilis oleh WEF ini menilai empat sub indeks, di antaranya adalah Enabling Environment (iklim yang mendukung), Travel and Tourism Policy and Enabling Condition (kebijakan dan kondisi yang mendukung pariwisata), infrastruktur, serta sumber daya alam dan budaya.

Meski di tingkat dunia sektor pariwisata kita menunjukkan perkembangan yang positif, Desa Wisata Institute melihat adanya tantangan berat yang harus menjadi perhatian utama dalam pembangunan pariwisata. Salah satunya adalah aspek keberlanjutan destinasi wisata.

Sebagai daerah yang merasakan langsung dampak adanya peningkatan kunjungan wisata (overtourism), tantangan terbesar kita tentu untuk memastikan keberlanjutannya. Dalam catatan penilaian WEF (World Economic Forum) 2019, Indonesia memiliki pekerjaan besar di sektor kesehatan dan lingkungan. Di pilar kesehatan dan kebersihan, Indonesia berada pada peringkat ke 102, dengan skor 4,5 dari skala 7. Sementara di pilar kebijakan ketahanan lingkungan, peringkat kita berada di 135 dengan skor 3,5. Dari dua pilar ini saja, kita masih jauh tertinggal, baik diukur dari peringkat dunia maupun skor yang diberikan.

Memaknai pariwisata berkelanjutan

Dari hasil studi di atas, jelas pekerjaan rumah kita adalah memastikan keberlanjutan destinasi wisata. Jika melihat pengertian dari pembangunan berkelanjutan, maka pembangunan pariwisata bukan saja ditujukan untuk manfaat ekonomi semata. Melainkan juga dalam berbagai hal yang dampaknya memberikan rasa sejahtera, masyarakat tidak terusik terhadap hadirnya aktivitas wisata, kepastian lapangan kerja dan kesempatan dalam berpatisipasi, kepastian peluang pendidikan atau transfer pengetahuan, kepastian terhadap warisan budaya dan lingkungan yang harus terpelihara dan ditingkatkan kualitasnya, maupun lainnya.

Untuk itu, melalui kegiatan ISTA Mart 2019, Desa Wisata Institute bersama Desa Wisata Pentingsari hadir mewartakan dan mengkampanyekan tentang pentingnya pembangunan pariwisata berkelanjutan yang mengedepankan partisipasi / keterlibatan masyarakat lokal.

Pendampingan Desa Wisata Institute
Para mahasiswa belajar tentang apa itu pembangunan pariwisata berkelanjutan

Acara penganugerahan tahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata RI ini bertempat di Ballroom The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta pada 26 September 2019. Penghargaan / anugerah ini akan diberikan kepada stakeholder pariwisata yang mengutamakan pariwisata berkelanjutan sekaligus mensosialisasikan konsep pariwisata berkelanjutan kepada wisatawan dan masyarakat luas. Konsep ini dinilai menjadi jawaban atas protes dan kritisnya berbagai pihak yang sudah resah terhadap kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh pembangunan pariwisata.

ISTA Forum
Pendampingan Desa Wisata Institute
Andi Irawanto (Desa Wisata Institute) menemani Bapak I Gede Ardhika dan Hendrie Adji Kusworo untuk melihat program kegiatan Desa Wisata Institute

Cukup Adalah Batasan Dalam Membangun Desa Wisata yang Berkelanjutan

Desa Wisata Pentingsari merupakan salah satu destinasi wisata di Indonesia yang telah berhasil menerapkan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan. Desa ini juga menjadi salah satu desa wisata peraih penghargaan ISTA 2017 kategori ekonomi dan juga masuk sebagai salah Top 100 Destinasi Berkelanjutan di Dunia versi Global Green Destinations Days.

Dalam kesempatan yang sama, Desa Wisata Institute pun dapat berdiskusi dengan Bapak I Gede Ardikha (Ketua Indonesia Sustainable Tourism Council) mengenai pembangunan desa wisata yang mengedepankan konsep pariwisata berkelanjutan.

“Desa wisata adalah unggulan kita. Ke depan, desa wisata dapat menjadi contoh nyata bagaimana pembangunan pariwisata berkelanjutan secara nyata dilaksanakan oleh masyarakat. Apa yang menjadi ciri utama? Nomor satu di dalam perencanaan pariwisata berkelanjutan, kita harus mampu mengubah pola pikir kita. Dari pola pikir lama ke pola pikir baru”, ungkapnya.

Kami pun penasaran dengan apa yang dimaksud perubahan pola pikir lama ke pola pikir baru. Lebih lanjut, I Gede Ardhika menjelaskan, bahwa apa yang dimaksud pola pikir lama itu adalah pola pikir yang didasarkan atas prinsip-prinsip kerakusan.

“Artinya kita membangun tanpa ada batas. Kita terus mengeksploitasi, baik sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun sumber daya finansial. Itu pola pikir yang harus kita geser. Agar berkelanjutan, harus dilandasi oleh kata ‘cukup’. Tidak boleh semuanya semena-mena kita eksploitasi. Bahwa apa yang kita kerjakan dan nikmati sekarang, itu adalah titipan anak cucu kita di masa depan. Oleh karena itu, ‘cukup’ menjadi patokan agar kita tahu diri dan membatasi diri. Jangan kita menjadi rakus”, pungkasnya.   

Pendampingan Desa Wisata Institute
Dari kiri ke kanan, I Gede Ardhika (Ketua Indonesia Sustainable Tourism Council), Valerina Daniel (Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan Kementerian Pariwisata), Hendri Adji Kusworo (Peneliti / Pengajar UGM)
Pendampingan Desa Wisata Institute
Ni Wayan Giri Adnyani (Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar RI) bersama M. Dzulkifli (STORM)
Pendampingan Desa Wisata Institute
Pendampingan Desa Wisata Institute

Leave a Reply

Your email address will not be published.