Peningkatan Partisipasi Masyarakat Melalui Kampanye Sadar Wisata di Margoluwih, Sleman

Senin, 10 Februari 2020, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menyelenggarakan acara kampanye Sadar Wisata yang bertempat di Balai Dusun Barak 1 Minggir, Margoluwih, Sleman. Acara yang menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dra. Hj. Sudarningsih, M.Si, (Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman), Yitno Porwoko, S.E, M.Sc ( Akademisi STIE Pariwisata Yogyakarta sekaligus mentor Desa Wisata Institute), dan M. Adlil Haq (ASITA Kabupaten Sleman) diikuti oleh 40 peserta yang terdiri dari unsur pengelola Desa Wisata beserta petugas pendamping.

Adapun materi yang dikupas tuntas oleh tiga narasumber antara lain adalah kebijakan Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman terhadap perkembangan kepariwisataan, penerapan Sapta Pesona di kawasan destinasi wisata, pembentukan kelembagaan, serta kesadaran dan motivasi masyarakat untuk kemajuan pariwisata.

Desa Margoluwih dipilih sebagai lokasi pelatihan lantaran memiliki potensi alam dan budaya yang cukup menarik untuk dikembangkan lebih lanjut. Potensi yang dimaksud adalah Mata Air Sumber Gede, Sendang Klakapan, kerajinan topeng dari kertas, jathilan, serta sentra industri genteng.

Kampanye Sadar Wisata di Margoluwih, Sleman
Kampanye Sadar Wisata di Margoluwih, Sleman
Dra. Hj. Sudarningsih, M.Si, (Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman) menyampaikan kebijakan Dinas Pariwisata terhadap perkembangan desa wisata

Menurut Dra. Hj. Sudarningsih, M.Si, potensi yang luar biasa ini dapat mengantar masyarakat Margoluwih menjadi desa wisata yang mandiri. Menurutnya, mengembangkan desa wisata seperti halnya membentuk karakter manusia. Diperlukan modal semangat, kesabaran,  dan kekompakan masyarakat dalam proses membangun desa wisata mandiri.

Semangat inilah yang telah menjadi modal awal masyarakat Margoluwih, di mana para generasi muda telah bersikap kritis terhadap perubahan lingkungan sehingga berusaha mengajak masyarakat setempat untuk melakukan kegiatan pelestarian alam dan budaya.

Sementara menurut Yitno Purwoko, tren perjalanan pariwisata saat ini mengalami perubahan. Saat ini, wisatawan tidak hanya ingin menikmati dan melihat sebuah objek/ atraksi saja, tetapi juga ingin terlibat langsung di dalam atraksi yang disuguhkan.

Kampanye Sadar Wisata di Margoluwih, Sleman
Kampanye Sadar Wisata di Margoluwih, Sleman
Yitno Purwoko menjelaskan tentang pentingnya menjalin kerjasama dengan pihak pemerintah, akademisi, industri, dan media

Adanya interaksi yang dekat antara wisatawan dengan masyarakat lokal kemudian dapat menghadirkan kesan dan kenangan positif. Harapannya, dengan adanya kesan dan kenangan positif tersebut, wisatawan memiliki keinginan untuk datang kembali. Hal ini tentunya sesuai dengan prinsip Sapta Pesona yang ketujuh, yakni kenangan.

Tak kalah pentingnya lagi, dalam mengembangkan desa wisata, pengurus desa wisata perlu menjalin kerja sama dengan beberapa pihak, seperti pemerintah, industri, akademisi, komunitas, biro perjalanan wisata maupun media. Menggandeng media ditujukan untuk mempercepat promosi desa wisata dan mengenalkan potensi yang ada di Margoluwih.

Selain itu, storytelling menjadi kunci utama agar desa wisata memiliki cerita atau sejarah yang unik. Untuk itu, diperlukan pemandu wisata yang pandai dalam menceritakan sejarah atau latar belakang suatu peristiwa. Dengan storytelling yang baik, harapannya wisatawan dapat berwisata lebih lama dan mendapatkan pengalaman yang lebih berkesan.

Kampanye Sadar Wisata di Margoluwih, Sleman
M. Adlil Haq (ASITA Kabupaten Sleman) menjelaskan tentang fenomena bisnis pariwisata di Yogyakarta

Agar pengembangan desa wisata dapat terlaksana dengan baik, pengurus desa wisata juga harus mau mengikuti beragam pelatihan. Hal ini dimaksudkan karena pariwisata menjadi hal yang baru bagi masyarakat desa yang umumnya berprofesi sebagai petani.

Disebutkan Yitno, contoh pelatihan yang harus diikuti adalah pelayanan prima, pembuatan dan pengemasan kuliner khas desa, teknik memandu dalam bahasa Inggris, serta melakukan kegiatan studi banding ke tempat yang memiliki karakter yang sama.

Dengan munculnya kepedulian dan sikap sadar wisata, para narasumber berharap pengembangan desa wisata memberikan dampak positif bagi masyarakat Margoluwih. Di luar dampak ekonominya, bisnis pariwisata diharap dapat berperan dalam menyerap tenaga kerja, pemerataan ekonomi masyarakat desa, lestarinya lingkungan dan budaya lokal, maupun mengurangi angka kenakalan remaja.

Ditulis dan dilaporkan oleh :
Eka Widhi Artanti | Foto : Arsenia Kewa Hokor
Penulis dan fotografer merupakan mahasiswi program studi Komunikasi Universitas AMIKOM, Yogyakarta yang mengikuti kegiatan magang di Desa Wisata Institute.
Editor : Hannif Andy

Leave a Reply

Your email address will not be published.