Peningkatan Kapasitas Pengelolaan dan Kerja Sama di Desa Wisata Plosokuning, Kabupaten Sleman

Jumat, 21 Februari 2020, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menyelenggarakan acara pelatihan bertajuk Peningkatan Kapasitas Pengelolaan dan Kerja Sama Desa Wisata Plosokuning yang bertempat di Aula Desa Wisata Plosokuning, Kecamatan Turi. Kegiatan pelatihan ini diselenggarakan sebagai bentuk persiapan Desa Wisata Plosokuning dalam mengikuti lomba desa wisata dan homestay tingkat provinsi pada Maret 2020.

Acara pelatihan ini turut menghadirkan dua narasumber dari unsur akademisi, Yitno Porwoko, SE, M.Sc (Pengajar STIE Pariwisata Yogyakarta sekaligus mentor Desa Wisata Institute) dan Indri Printianto, CHE (Pengajar STIPRAM Yogyakarta). Adapun materi yang disampaikan melalui pelatihan ini adalah manajemen pengelolaan homestay dan tata kelola desa wisata.

Turut hadir Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Dra. Hj. Sudarningsih, M.Si., untuk memantau persiapan Desa Wisata Plosokuning dalam mengikuti perlombaan. Dalam sambutannya, Sudarningsih menyampaikan adanya beberapa indikator yang akan menjadi poin penilaian lomba homestay.

Pelatihan Desa Wisata Plosokuning
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Dra. Hj. Sudarningsih, M.Si., membuka acara pelatihan

Beberapa indikator yang dimaksud antara lain; (1) atraksi wisata, (2) keunikan, budaya, dan pengelolaan, (3) unsur keaslian dan keindahan, (4) akomodasi yang sesuai standar desa wisata, (5) tata kelola homestay, (6) storytelling/ kekuatan cerita, dan (7) Sapta Pesona.

Selain beberapa indikator di atas, Sudarningsih berharap agar pengelola Desa Wisata Plosokuning dapat melakukan penghijauan di sepanjang jalan dan membuat even yang dapat menarik minat kunjung wisatawan.

Jika ditilik dari potensinya, Desa Wisata Plosokuning memilki potensi budaya berupa Sumur Panas dan Kahuripan yang hanya dapat dijelaskan sejarahnya melalui para juru kuncinya. Potensi lain yang cukup banyak diminati wisatawan adalah wisata susur sungai dan outbound.

Sementara menurut Indri Printianto, masih banyak yang salah dalam mengartikan serta membedakan antara homestay dan hotel. Masih banyak pemilik homestay di desa wisata beranggapan bahwa pelayanan yang harus diberikan kepada wisatawan harus sama dengan pelayanan hotel.

Pelatihan Desa Wisata Plosokuning
Indri Printianto menyampaikan bahwa masih banyak orang yang salah dalam mengartikan dan membedakan antara homestay dengan hotel

Pada hakikatnya, homestay merupakan rumah warga yang dijadikan tempat tinggal sementara untuk para wisatawan yang menginap maupun beraktivitas di desa wisata. Tidak hanya menginap saja, kehadiran homestay diharap memberikan pengalaman dan suasana kekeluargaan yang berbeda dibanding hotel.

Dalam penyediaan akomodasi ini, pemilik rumah dapat menggunakan kamar kosong yang bersih, namun tidak terlalu mewah. Dari sisi kuliner, pemilik rumah dapat menyediakan makanan khas desa wisata dengan kemasan yang ramah lingkungan. Hal yang terpenting lagi, pemilik homestay harus memperhatikan aspek kebersihan, keamanan, kesehatan, kenyamanan, dan keasrian.

Sementara itu, Yitno Purwoko menyampaikan bahwa potensi yang ada di Desa Wisata Plosokuning harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Salah satu bentuk pemanfaatan dan pengelolaan yang dapat dilakukan adalah melalui pengemasan paket wisata. Pihak pengelola desa wisata juga harus berani dalam membatasi jumlah pengunjung. Jangan hanya karena uang, pengelola melupakan aspek kelestarian lingkungan yang sangat rentan terhadap aktivitas wisatawan.

Disampaikan Yitno, tren gaya berwisata belakangan ini mengalami perubahan. Jika dahulu wisatawan lebih banyak melihat dan menyaksikan atraksi, untuk saat ini wisatawan ingin terlibat langsung dalam atraksi yang disuguhkan desa wisata.

Dengan adanya potensi seperti tanaman herbal, Yitno berharap pengelola Desa Wisata Plosokuning dapat mengemasnya melalui paket wisata pembuatan jamu herbal tradisional sebagai atraksi wisata bertemakan edukasi.

Dalam paparannya, Yitno menutup kegiatan dengan menyampaikan beberapa tips agar Desa Wisata Plosokuning mendapatkan hasil terbaik saat mengikuti lomba.

Adapun tips yang disampaikan antara lain; (1) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, (2) melestarikan sumber daya alam dan budaya, (3) pemberdayaan masyarakat yang kompeten dan inovatif, (4) pengembangan desa wisata diarahkan untuk kesejahteraan masyarakat, (5) melengkapi syarat administrasi seperti SK dari desa dan Dinas Pariwisata, (6) adanya SOP dan AD/ART Desa Wisata, dan (7) kelengkapan sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan wisatawan.

Ditulis dan dilaporkan oleh :
Eka Widhi Artanti
Penulis merupakan mahasiswi program studi Komunikasi Universitas AMIKOM, Yogyakarta yang mengikuti kegiatan magang di Desa Wisata Institute.
Editor : Hannif Andy

Leave a Reply

Your email address will not be published.