Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pengelola Desa Wisata Wulunggunung, Magelang

Pariwisata menjadi salah satu sektor strategis untuk meningkatkan perekonomian daerah. Potensi alam yang dimiliki serta sumber daya manusia (SDM) yang kreatif menjadi modal penting bagi suatu desa untuk membangun wilayahnya menjadi desa wisata. Untuk itu, Desa Wisata Institute hadir mengawal perjuangan desa-desa di Indonesia untuk mencapai kemandirian melalui pengembangan dan pemanfaatan potensi desa. 

Desa Wulunggunung merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang dengan kekayaan alam yang luar biasa.

Secara administratif, desa ini berada di ketinggian 1.200 Mdpl. Kondisi demikian menjadikan Desa Wulunggunung memiliki pemandangan yang sangat indah berupa enam gunung yang dapat dilihat secara 180 derajat. Hamparan ladang sayuran tak kalah menariknya. Belum lagi udaranya yang sejuk dan jauh dari hiruk pikuk kota.

Desa ini juga memiliki potensi unggulan yang tengah digarap Pemerintah Desa bersama masyarakat, yakni Bukit Gupak. Nantinya, objek wisata ini akan menjadi ikon wisata dari Desa Wulunggunung, Kecamatan Sawangan.Sebagai potensi pendukungnya, Wulunggunung dilengkapi dengan home industry kerajinan bambu serta kesenian budaya yang rutin diselenggarakan setiap tahunnya.

Melihat potensi alam dan budaya yang cukup melimpah, Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Desa Wulunggunung menyelenggarakan pelatihan peningkatan kapasitas pengelola wisata desa. Kegiatan ini diikuti oleh unsur perangkat desa, pendamping desa, kelompok Karang Taruna, beserta POKDARWIS.

Acara yang berlangsung selama dua hari (6 s.d 7 Februari 2020) ini turut menghadirkan empat narasumber dari Desa Wisata Institute, yakni Yitno Purwoko, Tri Harjono, Hannif Andy Al Anshori, dan Doto Yogantoro.

Pendampingan Desa Wulunggunung Magelang
Tri Harjono – Desa Wisata Institute menyampaikan materi kelembagaan Desa Wisata

Materi dan pelatihan yang disampaikan dalam kegiatan ini antara lain penggalian potensi desa, kelembagaan desa wisata, pembuatan paket wisata, manajemen pengelolaan desa wisata, serta story telling dan digital marketing. Penyampaian materi dikemas dengan teknis partisipatif, di mana peserta diberikan kesempatan untuk lebih aktif dalam menyampaikan gagasan/ ide serta membuat program kerja.

Dalam materi yang disampaikan Hannif, peserta pelatihan didorong untuk dapat kreatif dalam mengemas potensi wisata yang ada di Desa Wulunggunung. Tanpa kreativitas, potensi Desa Wulunggunung akan terlihat biasa-biasa saja.

Bentuk kreativitas yang dimaksud tidak hanya sebatas pada membuat objek swafoto seperti yang sedang marak belakangan ini. Salah satu bentuk kreativitas yang harus diupayakan untuk meningkatkan antusias dan lama tinggal wisatawan adalah pengemasan paket wisata dan penguatan teknik bercerita atau story telling. Untuk itu, Desa Wulunggunung perlu mencari ‘sesuatu yang asli, langka, unik, dan indah’, yang tidak dapat ditemukan di tempat lain.

Pendampingan Desa Wulunggunung Magelang
Hannif Andy – Desa Wisata Institute menyampaikan materi story telling dan marketing digital
Pendampingan Desa Wulunggunung Magelang

Konten yang kreatif juga menjadi sebuah umpan dalam mempromosikan desa wisata. Saat ini, media yang paling murah dan cukup efektif dalam memasarkan pariwisata adalah melalui media sosial. Dengan rata-rata penggunanya adalah generasi milenial, konten yang kreatif akan cepat viral. Namun yang perlu diantisipasi juga, generasi milenial pada umumnya adalah orang-orang yang cukup kritis terhadap fenomena sosial. Untuk itu, pengelolaan desa wisata tak bisa sembarangan sehingga diperlukan sumber daya manusia yang dapat melayani secara baik (prima).

Tri Harjono pun turut menguatkan bagaimana nantinya pemerintah desa berperan dalam mendorong partisipasi masyarakat untuk terlibat langsung dalam pengembangan desa wisata.

Menurutnya, partisipasi masyarakat adalah kunci untuk menyukseskan pengembangan desa wisata. Karena nantinya, hasil yang diperoleh dari desa wisata harus dapat dinikmati masyarakat Desa Wulunggunung dan sekitarnya.

Tidak hanya sebatas materi kelas saja, Yitno Purwoko mengajak para peserta untuk kembali memetakan potensi dan permasalahan desa melalui Business Model Canvas.

Teknik pemetaan yang umum digunakan dalam kegiatan analisis sosial ini menjadi media visual yang sangat mudah dipahami. Melalui perwakilan dari masing-masing bidang dan dusun, peserta pelatihan diberikan kesempatan untuk dapat mempresentasikan hasil pemetaannya, kemudian secara bersama-sama diputuskan jalan keluarnya sehingga muncul sebuah program kerja.

Pendampingan Desa Wulunggunung Magelang
Yitno Purwoko – Desa Wisata Institute mengajak peserta pelatihan untuk memetakan potensi
Pendampingan Desa Wulunggunung Magelang
Pendampingan Desa Wulunggunung Magelang

Sementara Doto Yogantoro memberikan gambaran bagaimana prosesnya merintis Desa Wisata Pentingsari. Tanpa ia rencanakan, desa tempat tinggalnya menerima penghargaan Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) pada 2017, hingga yang paling bergengsi adalah terpilihnya Desa Wisata Pentingsari sebagai 100 Top Destinasi Wisata Berkelanjutan di dunia versi Global Green Destinations Days.

Raihan prestasi itu tentunya tak terlepas dari peran serta masyarakat dalam mengedepankan prinsip pariwisata berkelanjutan. Untuk itu, Doto berharap Desa Wulunggunung dapat menjadi desa wisata yang lebih baik dari desa tempat tinggalnya dengan memperhatikan prinsip pariwisata berkelanjutan.

Ia pun banyak memberikan contoh bagaimana Desa Wisata Pentingsari menjaring kemitraan dengan pihak pemerintah, swasta, akademisi, maupun media.

Pendampingan Desa Wulunggunung Magelang
Doto Yogantoro – Desa Wisata Institute menyampaikan materi kemitraan dan pengelolaan desa wisata

Disampaikan Doto bahwa pariwisata berkelanjutan adalah pariwisata yang melibatkan semua pihak, khususnya masyarakat lokal untuk bersama-sama mengelola sumber daya sehingga mendapatkan keuntungan ekonomi maupun sosial dan ikut serta dalam memastikan keberlanjutan budaya lokal, ekologi (habitat alam, keanekaragaman hayati), dan sistem pendukung lainnya.  

Ditulis dan dilaporkan oleh :
Eka Widhi Artanti | Foto : Arsenia Kewa Hokor
Penulis dan fotografer merupakan mahasiswi program studi Komunikasi Universitas AMIKOM, Yogyakarta yang mengikuti kegiatan magang di Desa Wisata Institute.

Leave a Reply

Your email address will not be published.