Sarasehan Forum Komunikasi Desa dan Kampung Wisata DIY

Pada 15 Februari 2020, Desa Ekowisata Pancoh berkesempatan menjadi tuan rumah acara sarasehan Forum Komunikasi Desa dan Kampung Wisata DIY. Sarasehan Forum Komunikasi Desa dan Kampung Wisata merupakan acara rutin yang digelar setiap satu bulan sekali oleh para pengelola dan pemerhati desa wisata di DIY.

Selain sebagai forum diskusi yang membahas perjalanan kepariwisataan Indonesia; khususnya desa dan kampung wisata, acara ini ditujukan untuk mempererat silaturahmi antar pengelola desa dan kampung wisata yang tersebar di DIY.

Acara ini dihadiri oleh Dinas Pariwisata DIY, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, akademisi, dan juga para pengelola desa maupun kampung wisata di DIY. Hadir pula sebagai moderator sekaligus pemantik diskusi, Dr. Destha Titi Raharjana, S.Sos., M.Si (peneliti Pusat Studi Pariwisata UGM dan mentor Desa Wisata Institute).

Melalui diskusi rutin ini, turut disampaikan kondisi perkembangan kepariwisataan di masing-masing daerah, di antaranya Kabupaten Bantul, Sleman, Kulonprogo, Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta.

Yogyakarta diakui sebagai provinsi yang memiliki desa dan kampung wisata dengan suguhan atraksi yang cukup beragam sehingga tak jarang dijadikan lokasi belajar desa wisata di Indonesia. Menurut catatan Dinas Pariwisata DIY, dari total 132 desa dan kampung wisata, hanya 10 desa wisata yang masuk ke dalam kategori maju. Dua di antaranya adalah Desa Wisata Nglanggeran di Kabupaten Gunungkidul dan Desa Wisata Pentingsari di Kabupaten Sleman.

Baru-baru ini, Desa Wisata Nglanggeran dan Desa Wisata Pentingsari meraih penghargaan sebagai top 100 destinasi wisata berkelanjutan dunia versi Global Green Destinasion Days. Penghargaan ini tentunya adalah prestasi yang mengagumkan, di mana hanya ada empat desa wisata di Indonesia yang terpilih. Sementara sisanya, tentu berasal dari beberapa negara. Kabar ini tentunya memberi harapan sekaligus tantangan baru bagi Forum Komunikasi Desa dan Kampung Wisata DIY.

Forum Komunikasi Desa dan Kampung Wisata DIY

Di luar raihan prestasi tersebut, pengelola desa wisata masih memiliki permasalahan. Satu di antaranya mengenai munculnya akomodasi penginapan baru yang mengatasnamakan homestay.

Padahal jika ditilik dari unsur pengelola maupun lokasi berdirinya, penginapan tersebut tidak berada di dalam kawasan desa wisata. Hal ini tentunya dinilai sangat merugikan pihak desa wisata di mana bukan saja terletak pada persaingan bisnisnya. Melainkan hilangnya ruh dari homestay, yang hakikatnya merupakan tempat inap sementara untuk wisatawan dengan memanfaatkan rumah tinggal masyarakat yang berada di desa wisata.

Dalam pengertian ini, tentu wisatawan tidak hanya sebatas menginap dan bermalam saja. Melainkan juga berinteraksi dan belajar tentang kearifan lokal maupun kebudayaan desa langsung dari tuan rumah/ pemilik homestay.

Sementara itu di Kulonprogo, masyarakat sedang bersiap menyambut bandara baru yang bakal beroperasi pada Maret mendatang. Salah satu bentuk persiapan yang cukup terlihat adalah adanya semangat masyarakat dalam menyiapkan dan mengelola homestay.

Melihat beberapa permasalahan di atas, para akademisi pun menyatakan kesanggupannya dalam membantu pengelolaan desa wisata melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Namun dalam beberapa hal, pihak kampus masih kesulitan dalam memetakan permasalahan di desa wisata sehingga perlu adanya kerja sama antara pihak kampus dan Dinas Pariwisata daerah maupun Forum Komunikasi Desa dan Kampung Wisata DIY.  

Di sisi lain, Desa Wisata Institute sebagai pemerhati sekaligus organisasi yang fokus dalam peningkatan SDM desa wisata akan kembali menggiatkan acara bertajuk Desa Wisata Goes To Campus pada pertengahan 2020 ini.

Dengan acara ini, diharapkan pihak kampus memiliki pandangan terkait program pemberdayaan dan pengabdian masyarakat yang dapat diaplikasikan di desa wisata.

Selain itu, kegiatan Desa Wisata Goes To Campus diharapkan dapat mengenalkan program desa wisata kepada generasi muda sehingga sebelum dan setelah lulus, mereka dapat terlibat dalam proses kegiatan membangun desa.

Sementara dari sisi kebijakan, Dinas Pariwisata DIY akan menyelenggarakan perlombaan untuk seluruh desa dan kampung wisata yang ada di Yogyakarta. Beragam kategori  yang akan dilombakan antara lain lomba homestay pada 09-24 Maret 2020 dan lomba POKDARWIS bulan April mendatang.  

Selain lomba homestay dan POKDARWIS, Dinas Pariwisata DIY akan mendorong program kemitraan antara hotel dan desa wisata sebagaimana yang telah berjalan sejak Juni 2016 lalu. Pada tahun ini, tercatat 5 (lima) kemitraan baru antara hotel dan desa wisata yang akan dilaksanakan pada bulan Maret mendatang.

Kegiatan rutin sarasehan Forum Komunikasi Desa dan Kampung Wisata DIY kemarin menunjukan cukup banyak peluang dan permasalahan yang harus segera diselesaikan. Harapannya, dengan tetap berjalannya agenda Forum Komunikasi Desa dan Kampung Wisata DIY, para pengelola dan pemerhati desa wisata dapat membuka ruang kerja sama yang lebih luas dengan turut melibatkan unsur akademisi, swasta, maupun media.  

Forum Komunikasi Desa dan Kampung Wisata DIY

Ditulis dan dilaporkan oleh :
Eka Widhi Artanti | Foto : Arsenia Kewa Hokor
Penulis dan fotografer merupakan mahasiswi program studi Komunikasi Universitas AMIKOM, Yogyakarta yang mengikuti kegiatan magang di Desa Wisata Institute.
Editor : Hannif Andy

Leave a Reply

Your email address will not be published.