Kenduri Pariwisata Inti Rakyat Volume 2: Kupas Tuntas Model Regenerasi Kepengurusan Desa Wisata
“Regenerasi bukan hanya tentang SDM, tetapi juga sarana dan prasarana pendukung kegiatan wisata, seperti sapi juga perlu diperhatikan.”
Pernyataan jenaka dari Wahyu selaku pengelola Desa Wisata Pentingsari, Kabupaten Sleman disambut gelak tawa oleh peserta Kenduri Pariwisata Inti Rakyat (PIR), sebuah forum silaturahmi dan dialog interaktif yang mempertemukan para pengelola desa-kampung wisata untuk saling berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam membangun pariwisata berbasis komunitas.
Setelah mendapatkan sambutan positif pada peluncuran perdananya di Kampung Wisata Rejowinangun (22 Maret 2025), Kenduri Pariwisata Inti Rakyat (PIR) kembali digelar pada Sabtu, 17 Mei 2025. Forum ini diselenggarakan oleh Atourin bersama Desa Wisata Institute, dengan menggandeng Desa Wisata Krebet sebagai tuan rumah.
Dengan mengangkat tema “Transformasi Kapasitas SDM Kaderisasi Pengelola: Model Regenerasi Kepengurusan Menuju Desa Wisata yang Berkelanjutan,” Kenduri PIR Volume 2 kembali menjadi ruang temu inspiratif bagi para penggerak desa dan kampung wisata, serta pegiat pariwisata berbasis masyarakat.
Mendengar Perspektif dari Representasi Pemuda
Kenduri PIR Volume 2 menghadirkan tiga narasumber yang aktif mengelola desa wisata berprestasi, baik di tingkat nasional maupun ASEAN. Ketiganya adalah Dwi Wahyu S dari Desa Wisata Pentingsari, Agus Jati Kumara dari Desa Wisata Krebet, dan Albertus Desy dari Desa Wisata Pandanrejo, yang merupakan representasi anak muda yang telah terlibat langsung dalam proses regenerasi kepengurusan desa wisata.
Dipandu oleh moderator Ferdian Dwi Saputra (Pariwisata UGM 2022), diskusi yang berlangsung selama hampir dua jam ini membahas praktik nyata di lapangan, tantangan, serta pendekatan strategis dalam mewujudkan regenerasi kepemimpinan yang berkelanjutan di desa dan kampung wisata.
Regenerasi Perlu Ekosistem yang Siap
Salah satu temuan menarik dalam Kenduri PIR kali ini adalah dorongan untuk memperluas makna regenerasi. Tidak hanya sebatas peningkatan kapasitas SDM muda, tetapi juga mencakup keberlanjutan sarana dan prasarana pendukung desa wisata.
Desa Wisata Pentingsari di Kabupaten Sleman menjadi contoh nyata, di mana aktivitas berbasis pertanian dan budaya telah lama menjadi bagian dari daya tarik wisata mereka. Maka, regenerasi ideal tidak hanya berbicara tentang kaderisasi manusia, tetapi juga mencakup regenerasi fasilitas, alat kerja, termasuk sistem pendukung lainnya. Hal ini memperluas perspektif peserta tentang makna kaderisasi yang selama ini cenderung terbatas pada pelatihan SDM atau pelibatan anak muda dalam struktur pengelolaan.
“Kalau sapi mati dan tidak diganti, lalu siapa yang akan membajak sawah nantinya? Tidak mungkin sapi yang masih usia empat tahun, bukan?” ujar Wahyu yang disambut tawa dan tepuk tangan para peserta.
Pernyataan tersebut sekaligus membuka sudut pandang baru bahwa keberlanjutan desa wisata sangat bergantung pada kelangsungan seluruh elemen pendukung, termasuk hal yang tampak sederhana, tetapi krusial, seperti alat produksi pertanian tradisional yang menjadi bagian dari daya tarik wisata.


Pendekatan Emosional dan Sistemik
Dalam membangun ekosistem regenerasi yang berkelanjutan, pendekatan yang digunakan tidak hanya bertumpu pada kedekatan emosional, tetapi juga mengandalkan sistem yang terstruktur. Desa Wisata Krebet misalnya, menerapkan proses pemilihan ketua Pokdarwis dan desa wisata dengan mekanisme seperti pemilihan umum. Skema ini memberi ruang partisipasi yang luas bagi masyarakat dalam proses pergantian kepengurusan, sekaligus memperkuat legitimasi hasilnya.
Pendekatan yang tak kalah menarik datang dari Desa Wisata Pandanrejo di Kabupaten Purworejo. Di sana, regenerasi dijamin melalui kebijakan internal yang membatasi masa jabatan ketua hanya satu periode.
“Di tempat kami, Desa Wisata Pandan, ketua maksimal hanya satu periode, tidak boleh lebih sehingga regenerasi dapat dipastikan berjalan,” ungkap Desy, yang sebentar lagi akan mengakhiri masa jabatannya sebagai ketua pengelola Desa Wisata Pandanrejo.
Gerakan Sosial yang Didorong untuk Melayani Secara Profesional
Dukungan penuh dari Desa Wisata Krebet sebagai tuan rumah menjadi bukti nyata betapa kuatnya semangat kolaborasi dalam membangun pariwisata yang berkelanjutan. Desa ini terkenal dengan seni ukir batik kayu, sebuah warisan budaya yang dijaga secara turun temurun oleh masyarakat setempat.
Tidak hanya sekadar melibatkan anak muda, Agus menegaskan bahwa di balik semangat gerakan sosial ini, terdapat dorongan kuat menuju profesionalisme.
“Kami menerapkan aturan ketat untuk menjaga kualitas pelayanan. Misalnya, jika ada pemandu wisata yang tidak mengenakan seragam resmi, tidak menggunakan sepatu, atau bahkan terlambat datang, sudah ada kesepakatan tegas untuk dikenakan potongan honor,” ungkapnya.
Pendekatan ini mencerminkan bagaimana gerakan sosial yang menggerakkan komunitas harus dipadukan dengan standar profesional agar mampu menghadirkan layanan pariwisata yang berkualitas. Dengan demikian, regenerasi kepengurusan tidak hanya soal pergantian peran, tetapi juga transformasi budaya kerja yang serius dan bertanggung jawab.

Rilis Hasil Survei Produktivitas Desa dan Kampung Wisata
Selain menjadi ruang berbagi gagasan dan praktik dari para pelaku desa dan kampung wisata, Kenduri PIR Volume 2 juga menghadirkan sesi khusus, yakni peluncuran hasil survei mandiri oleh Desa Wisata Institute dan Atourin. Survei ini secara khusus menyoroti dampak dari Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 serta kebijakan pelarangan study tour oleh sejumlah pemerintah daerah terhadap keberlangsungan aktivitas pariwisata di desa dan kampung wisata.
Temuan survei menunjukkan adanya penurunan signifikan jumlah kunjungan, terutama dari segmen pelajar-mahasiswa dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), yang selama ini menjadi salah satu penopang utama kunjungan wisata di desa/kampung wisata.
Dipresentasikan oleh Hannif Andy A (founder Desa Wisata Institute) dan Reza Permadi (founder Atourin), survei ini juga merumuskan sejumlah rekomendasi strategis dan adaptif. Beberapa di antaranya meliputi penguatan program pendampingan, perluasan pasar wisatawan mancanegara, serta relaksasi kebijakan perjalanan wisata.
Menyambut Kenduri PIR Volume Berikutnya
Dengan semangat berbagi dan belajar dari akar rumput, Kenduri Pariwisata Inti Rakyat (PIR) telah menjadi ruang yang dibutuhkan para pegiat dan pemerhati pariwisata berbasis masyarakat, khususnya bagi mereka yang ingin lebih jauh melihat praktik pembangunan pariwisata berkelanjutan. Forum ini tidak didesain sebagai ruang ceramah, melainkan arena dialog yang menghadirkan pengalaman nyata, relevan, dan bisa langsung diterapkan.
Usai pelaksanaan volume kedua, harapan agar Kenduri PIR terus berlanjut mengemuka dari banyak peserta. Mereka mendorong agar cakupannya diperluas, tetapi tetap mempertahankan format yang santai dan akrab.
Apresiasi serupa juga disampaikan oleh berbagai pemangku kepentingan yang hadir dalam Kenduri PIR Volume 2. Perwakilan dari Kementerian Pariwisata, Badan Otorita Borobudur (BOB), hingga Dinas Pariwisata kompak menyatakan bahwa forum seperti ini layak untuk terus dilanjutkan dalam seri-seri selanjutnya.


Tidak hanya terbatas pada desa wisata, mereka bahkan mendorong agar cakupan diperluas hingga melibatkan kampung-kampung wisata yang juga memiliki dinamika dan potensi khas. Menurut Yulwan dari Badan Otorita Borobudur, kampung wisata menawarkan karakteristik kewilayahan yang unik, sehingga perlu diangkat sebagai bagian dari penguatan pariwisata berbasis masyarakat.
“Kampung wisata memiliki relasi sosial yang berbeda dan struktur kewilayahan yang unik. Ini menjadi tantangan yang menarik untuk dibahas dan dikembangkan melalui forum-forum seperti Kenduri PIR,” ujarnya.
Ditulis oleh:
Alfi Turni Aji & Ferdian Dwi Saputra
Mahasiswa Program Magang MBKM UGM Batch III
Penyunting:
Hannif Andy Al Anshori