Destha menyandang gelar Sarjana Antropologi, Magister Ilmu Lingkungan, dan Doktor Pariwisata dari Universitas Gadjah Mada. Ia dikenal sebagai peneliti sekaligus pemerhati pariwisata berbasis masyarakat, dan hingga kini aktif sebagai peneliti di Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM. Selain meneliti, Destha juga mengajar di sejumlah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta, mengampu mata kuliah seputar pariwisata, ekowisata, dan antropologi.
Selama berkiprah di Puspar UGM, ia kerap dipercaya menjadi konsultan berbagai program pengembangan pariwisata, mulai dari penyusunan UU pariwisata, Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Nasional, hingga rencana induk pariwisata di level kabupaten/kota.
Tri Harjono dikenal sebagai perintis, penggerak, sekaligus local champion Desa Wisata Bleberan, Gunungkidul, DIY. Di bawah kepemimpinannya, desa ini meraih penghargaan sebagai salah satu desa wisata terbaik dalam kategori Ilmu Pengetahuan dan Teknologi versi Kementerian Desa PDTT. Selama 18 tahun menjabat sebagai Kepala Desa Bleberan, ia berhasil mendorong kemandirian dan kesejahteraan warga melalui pengelolaan potensi alam, budaya, dan sumber daya manusia.
Kini, Tri Harjono melanjutkan perannya dalam pembangunan desa sebagai Direktur Pengelola BUMDes Sejahtera Bleberan, dengan komitmen kuat pada tata kelola desa wisata yang inklusif dan berkelanjutan.
Selain berpengalaman sebagai fasilitator PNPM Mandiri bidang pariwisata, Andi juga aktif dalam berbagai kegiatan Forum Komunikasi Desa Wisata (Forkom) DIY, sebuah lembaga masyarakat yang mendorong pengembangan desa dan kampung wisata di Yogyakarta.
Pada 2013, desanya dipercaya menjadi tuan rumah Ngayogjazz, salah satu festival musik jazz terbesar di DIY yang sukses menggerakkan roda ekonomi lokal sekaligus memperkenalkan potensi desa ke khalayak luas. Keterlibatannya mencerminkan komitmen pada pengembangan desa berbasis kolaborasi, budaya, dan partisipasi masyarakat.
Lebih dari satu dekade berpengalaman di bidang perencanaan destinasi dan pendampingan masyarakat. Ia juga founder dari Insan Wisata Kids, trip organizer ramah anak pertama di Indonesia yang memiliki konsep pariwisata regeneratif.
Hannif telah tersertifikasi sebagai trainer Green Tourism for MSMEs dari International Labour Organization (ILO) melalui program Partnership for Action on Green Economy (PAGE), serta mengantongi sertifikasi BNSP skema Pengembangan Desa Wisata. Ia juga dipercaya sebagai tenaga ahli pendamping Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 dan juri Wonderful Indonesia Awards (WIA) 2025 kategori local heroes. Di bidang akademik, ia aktif menjadi pengajar praktisi di sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta untuk mata kuliah Community Based Tourism.
Yitno aktif mengajar di STIE "Pariwisata API" Yogyakarta, membawakan mata kuliah pariwisata berbasis masyarakat dan ekowisata. Pengalaman panjangnya di industri pariwisata diperkuat dengan kiprahnya sebagai pengelola biro perjalanan wisata serta anggota tim P2KTD (Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa) di lingkungan kampus.
Ia juga aktif memimpin berbagai program pengabdian dan penelitian di desa wisata. Di luar dunia akademik, Yitno menunjukkan dedikasi berkelanjutan pada sektor pariwisata melalui perannya sebagai pengurus Badan Promosi Pariwisata Daerah Kabupaten Gunungkidul dari unsur akademisi.
Madoen adalah penggerak di balik pengembangan Desa Wisata Banjaroya, Kulon Progo, yang dikenal sebagai sentra durian Menoreh. Berbekal pengalaman panjang di dunia event organizer, ia konsisten mendorong event sebagai produk unggulan pariwisata berbasis masyarakat di desa.
Pada 2022-2023, Madoen dipercaya sebagai trainer Kampanye Sadar Wisata 5.0 dalam Program P3TB Kemenparekraf di enam destinasi prioritas. Selain membangun desa, ia juga aktif sebagai pengurus Forum Komunikasi Desa Wisata di tingkat kabupaten dan DIY, memperkuat jejaring dan kolaborasi antarpelaku wisata.
Andika tumbuh bersama semangat pengembangan Desa Wisata Pentingsari, yang ia pelajari langsung dari almarhum ayahnya, Doto Yogantoro. Lulusan teknik lingkungan ini kini aktif sebagai perangkat pemerintahan di Kalurahan Umbulharjo. Tempat tinggalnya di Desa Wisata Pentingsari telah menjadi percontohan nasional dengan klasifikasi mandiri inspiratif dan predikat desa wisata berkelanjutan dari Indonesia Sustainable Tourism Council (ISTC).
Nama Pentingsari makin dikenal luas setelah meraih ASEAN Tourism Award 2023 untuk kategori Community-Based Tourism, menegaskan komitmen desa terhadap pariwisata berbasis masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan.