Krisis iklim dan ketahanan pangan di desa wisata
Artikel, Tourism Unlocked

Menghadapi Krisis Iklim dan Membangun Ketahanan Pangan Melalui Pengembangan Desa Wisata

Pernahkah kita membayangkan bagaimana jika suatu hari nanti bahan pangan yang biasa kita konsumsi menjadi langka dan harganya melambung tinggi?

Sayangnya, ancaman itu bukan lagi sekadar bayangan, tetapi sudah mulai kita rasakan hari ini. Perubahan iklim yang makin tidak menentu telah menyebabkan berbagai bencana, mulai dari gagal panen hingga bencana alam seperti banjir dan kekeringan. Ketidakstabilan cuaca dan pola musim yang sulit diprediksi memperburuk kondisi pertanian, mengancam ketahanan pangan, dan berpotensi meningkatkan konflik sosial.

Krisis iklim dan ancaman nyata ketahanan pangan di Indonesia

Ketahanan pangan memiliki keterkaitan erat dengan perubahan iklim. Berdasarkan penilaian Global Food Security Index (GFSI), harga pangan di Indonesia masih tergolong terjangkau dengan pasokan yang relatif stabil dibandingkan negara lain. 

Namun, infrastruktur pertanian pangan di Indonesia masih berada di bawah rata-rata global. Hal ini menjadikan ketahanan sumber daya alam kita lemah dan makin rentan terhadap dampak krisis iklim.

Peningkatan suhu global, perubahan pola musim, serta meningkatnya frekuensi bencana alam menyebabkan gangguan signifikan dalam produksi pangan. Suhu yang lebih tinggi berpotensi menurunkan produktivitas tanaman, sementara ketidakpastian musim mengganggu waktu panen dan siklus pertumbuhan.

Penelitian yang dilakukan oleh Edvin Aldrian dan Elza Surmaini, pakar iklim dan meteorologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menunjukkan bahwa perubahan iklim memberikan dampak negatif terhadap sektor pertanian di Indonesia, terutama pada komoditas strategis seperti padi dan kopi. Diprediksi bahwa pada periode 2051–2080, Indonesia berisiko mengalami kehilangan nilai ekonomi produksi padi hingga Rp42,4 triliun per tahun akibat perubahan iklim yang makin ekstrem.

Peran desa wisata di tengah krisis iklim

Dalam menghadapi tantangan krisis iklim dan ketahanan pangan, pengembangan desa wisata berkelanjutan dapat menjadi solusi strategis. Dengan mengintegrasikan praktik pertanian ramah lingkungan, diversifikasi ekonomi berbasis ekowisata, serta tata kelola sumber daya alam yang bijak, desa wisata dapat berperan dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.

Desa wisata yang menerapkan konsep edukasi agro dan ekowisata misalnya, dapat mengedukasi masyarakat tentang praktik pertanian berkelanjutan yang adaptif terhadap perubahan iklim. Selain itu, sistem pengelolaan air yang lebih efisien, pemanfaatan energi terbarukan, dan konservasi lahan dapat membantu meningkatkan ketahanan desa terhadap bencana alam.

Dalam kasus ini, beberapa desa wisata telah sukses membangun pendekatan edukasi pertanian yang menggabungkan dengan pariwisata pun cukup banyak. Sebut saja Desa Wisata Pentingsari (Yogyakarta), Desa Wisata Pancoh (Yogyakarta), Desa Wisata Nglanggeran (Yogyakarta), Desa Wisata Jatiluwih (Bali), dan Desa Wisata Taro (Bali). Paket wisata yang ditawarkan memberikan wisatawan pengalaman untuk mengalami langsung upaya-upaya pelestarian alam dan budaya melalui aktivitas wisata yang interaktif. 

Dengan tata kelola yang bijak dan partisipasi aktif masyarakat, desa wisata berkelanjutan dapat menjadi model solusi adaptasi dan mitigasi krisis iklim. Tidak hanya menjaga kelangsungan lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Pembelajaran ini diharapkan tidak hanya berdampak pada wisatawan, tetapi juga menginspirasi masyarakat untuk lebih sadar dan mandiri dalam menciptakan sistem pangan yang berkelanjutan. Dengan banyaknya orang yang peduli, desa wisata berperan sebagai katalis perubahan, membantu membangun ketahanan pangan yang kuat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Kehadiran desa wisata yang sukses dalam mengemas potensi menjadi nilai tambah menunjukkan bahwa pertanian dan pariwisata bisa berjalan beriringan dalam membangun ketahanan pangan yang lebih kuat. Dengan makin banyaknya desa wisata yang menerapkan konsep ini, harapannya ketahanan pangan di Indonesia dapat terus diperkuat di tengah ancaman perubahan iklim.

Pembelajaran ini diharapkan tidak hanya berdampak pada wisatawan, tetapi juga menginspirasi masyarakat untuk lebih sadar dan mandiri dalam menciptakan sistem pangan yang berkelanjutan. Dengan banyaknya orang yang peduli, desa wisata berperan sebagai katalis perubahan, membantu membangun ketahanan pangan yang kuat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Kehadiran desa wisata yang sukses dalam mengemas potensi menjadi nilai tambah menunjukkan bahwa pertanian dan pariwisata bisa berjalan beriringan dalam membangun ketahanan pangan yang lebih kuat. Dengan makin banyaknya desa wisata yang menerapkan konsep ini, harapannya ketahanan pangan di Indonesia dapat terus diperkuat di tengah ancaman perubahan iklim.

Mengapa desa wisata menjadi bagian dari solusi? 

Di tengah krisis iklim yang makin nyata, desa wisata hadir memberi banyak harapan. Dengan mengedepankan prinsip berkelanjutan, desa wisata dapat menjadi solusi untuk menjaga lingkungan sekaligus memastikan ketahanan pangan.

Kita semua bisa berkontribusi mulai dari mendukung produk lokal hingga menjadi wisatawan yang lebih peduli terhadap alam. Dengan mengunjungi desa wisata yang menerapkan praktik berkelanjutan, kita turut serta dalam mendukung ekonomi lokal dan menjaga keberlanjutan pangan.

Dengan tata kelola yang bijak dan partisipasi aktif masyarakat, desa wisata berkelanjutan dapat menjadi model solusi adaptasi dan mitigasi krisis iklim. Tidak hanya menjaga kelangsungan lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Ditulis oleh:
Adya Danastri
Mahasiswa Program Magang MBKM UGM Batch III

Penyunting:
Hannif Andy Al Anshori

Daftar pustaka

Leave A Comment

Your Comment
All comments are held for moderation.