Pendampingan Penguatan Produk dan Layanan Wisata di Kampung Adat Prai Ijing
Kampung Adat Prai Ijing, Kabupaten Sumba Barat kembali menjadi lokasi kegiatan pembinaan dan pendampingan yang dilakukan oleh Desa Wisata Institute. Diselenggarakan pada 20–25 April 2025, tim DWI yang dimentori oleh Hannif Andy Al Anshori, Dewi Masyifa, dan Fernanda Tri Antono melakukan pembinaan untuk beberapa tema bahasan, di antaranya finalisasi SOP layanan wisata, perluasan pemasaran, dan pendokumentasian paket wisata.
Finalisasi SOP Layanan Wisata
Kegiatan dibuka dengan proses evaluasi dan penyempurnaan Standar Operasional Prosedur (SOP) layanan wisata, dokumen yang menjadi panduan utama dalam melayani tamu dengan cara yang terstruktur, tetapi berakar pada nilai budaya setempat.
Bersama Kelompok Sadar Wisata dan pemerintah desa, tim DWI meninjau ulang alur penyambutan tamu, pengelolaan homestay, penyajian makanan minuman, hingga penyelenggaraan tur budaya. Keseluruhan prosedur dirancang agar bisa diterapkan oleh masyarakat dengan mudah, tanpa kehilangan keaslian tradisi yang menjadi kekuatan utama Prai Ijing.
Pelatihan Pembuatan Konten untuk Website
Pada sesi berikutnya, perhatian diarahkan pada dunia digital. Pemuda dan pemudi yang tergabung ke dalam Pokdarwis mengikuti pelatihan penulisan artikel untuk mengisi website Kampung Adat Prai Ijing. Mereka belajar membingkai kisah, seperti tradisi masyarakat, kuliner khas, hingga makna di balik bentuk atap rumah adat dalam narasi yang enak dibaca.
Dengan memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence seperti ChatGPT, peserta belajar menyusun kerangka artikel dan menentukan kata kunci yang relevan. Konten-konten inilah yang nantinya akan menjadi etalase digital Kampung Adat Prai Ijing, sekaligus memperkenalkan budaya Sumba kepada siapa saja.
Finalisasi Peta Sebaran Daya Tarik dan Peta Mitigasi Kebencanaan
Pembinaan juga mencakup penyempurnaan peta sebaran daya tarik wisata dan peta mitigasi bencana. Bersama masyarakat, tim DWI memvalidasi ulang penamaan lokasi dan narasi yang menyertainya, agar selaras dengan pemahaman lokal.
Peta ini tak hanya menunjukkan tempat-tempat yang bisa dikunjungi, tetapi juga memberi informasi penting tentang area terlarang dan kisah yang menyertainya. Visualisasi ini menjadi alat bantu wisatawan sekaligus bagian dari sistem pengelolaan risiko yang informatif.


Evaluasi Penyelenggaraan Tur dan Pengembangan Paket Wisata Minat Khusus
Salah satu sesi penting dalam rangkaian pendampingan kali ini adalah evaluasi penyelenggaraan paket wisata half day yang telah dibeli dan dijalankan untuk wisatawan asal Slovakia pada bulan Maret lalu. Tim Desa Wisata Institute memimpin jalannya evaluasi bersama Kelompok Sadar Wisata dan para pemangku kepentingan lokal. Kegiatan ini menjadi momen reflektif yang penting, menelusuri kembali bagaimana alur pelayanan diberikan, mulai dari penyambutan, pengalaman selama tur, hingga kesan wisatawan setelah berkunjung.
Melalui diskusi terbuka, peserta diajak untuk mengenali hal-hal yang sudah berjalan, seperti ketepatan waktu, keramahan pemandu, dan narasi budaya yang disampaikan. Di sisi lain, catatan-catatan perbaikan seperti alur koordinasi antarunit, kesiapan logistik, dan dokumentasi kegiatan juga dicatat secara kolektif.
Di samping itu, untuk menjangkau pasar mancanegara, Pokdarwis juga mendapatkan pendampingan guna menyusun ragam paket wisata yang lebih unik. Beberapa paket wisata tersebut di antaranya adalah paket experience, half day, full day, hingga program tinggal bersama warga (live in).
Salah satu inovasi yang diperkenalkan dan akan dipublikasikan dalam waktu dekat adalah paket bertema fotografi “Prai Ijing Through The Lens”, yang diprediksi akan dicari oleh komunitas fotografer mendekati penyelenggaraan Pasola. Paket ini menyasar para penggemar fotografi yang ingin mengabadikan lanskap eksotis dan aktivitas budaya secara langsung.
Baca juga: Pendampingan Tata Kelola, Pengelolaan Keuangan, dan Pemasaran di Kampung Adat Prai Ijing


Pemanfaatan Canva untuk Pembuatan Konten Media Sosial
Menyadari pentingnya promosi visual di era digital, masyarakat dikenalkan dengan Canva, platform desain grafis yang ramah pemula, tetapi sangat fungsional. Melalui pelatihan ini, peserta yang tergabung ke dalam Pokdarwis belajar membuat konten media sosial, mulai dari poster, unggahan Instagram, hingga materi promosi digital lainnya.
Tak sekadar mengajarkan teknis, sesi ini juga mengasah rasa estetik dan konsistensi desain agar setiap materi mencerminkan identitas visual Kampung Adat Prai Ijing. Dengan memanfaatkan smartphone, masyarakat mulai terdorong untuk membangun wajah digitalnya sendiri.
Baca juga: 7 Tips Mengelola Akun Desa Wisata Hingga Jadi Magnet Wisatawan

Kolaborasi Menuju Kemandirian
Delapan bulan pembinaan dan pendampingan dari Desa Wisata Institute dan Bakti BCA setidaknya telah membuahkan hasil. Masyarakat lebih percaya diri, munculnya inovasi produk yang mengintegrasikan banyak potensi, tata kelola desa wisata lebih baik, dan semangat gotong royong tumbuh makin kuat.
Desa Wisata Institute bersama Bakti BCA terus menekankan bahwa penguatan kapasitas lokal adalah kunci utama. Bukan hanya sebagai objek wisata, masyarakat Prai Ijing didorong menjadi pelaku utama dalam perencanaan dan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.
Kini, Prai Ijing bukan hanya sebuah kampung adat yang menawan. Ia tengah tumbuh menjadi destinasi yang siap menyambut siapa saja yang ingin mengenal Sumba lebih dalam dengan cara yang lebih bermakna.
Ditulis oleh:
Dewi Masyifa Antaningrum
Mahasiswa Program Magang MBKM UGM Batch III
Penyunting:
Hannif Andy Al Anshori