Pendampingan Penguatan Implementasi SOP Layanan Wisata di Kampung Adat Prai Ijing
Kampung Adat Prai Ijing, yang terletak di Desa Tebara, Sumba Barat, menyimpan kekayaan budaya yang memesona dan memikat hati setiap pengunjungnya. Ciri khas utama kampung ini adalah berdirinya rumah adat (Uma Bokulu) dengan atap yang menjulang tinggi, melambangkan warisan leluhur yang dijaga penuh rasa hormat. Rumah-rumah tradisional ini berdiri mengelilingi kubur batu, menciptakan sebuah lanskap yang unik sekaligus sakral, tempat di mana sejarah dan budaya bertemu dan tetap hidup.
Lebih dari sekadar destinasi wisata, Kampung Adat Prai Ijing menjadi ruang hidup masyarakat yang teguh memegang adat dan tradisi secara turun-temurun. Keunikan budaya dan keramahan masyarakat setempat menarik wisatawan untuk tidak hanya menyaksikan, tetapi juga menyelami kehidupan dan nilai-nilai lokal yang autentik.
Kontribusi Desa Wisata Institute: Memperkuat Ekosistem Wisata Berkelanjutan
Dalam rangka membangun pondasi desa wisata yang berkelanjutan, Desa Wisata Institute (DWI) kembali hadir memberikan pendampingan intensif kepada masyarakat Kampung Adat Prai Ijing. Selama sepekan penuh, dari tanggal 22–29 Mei 2025, berbagai program pembinaan dan pendampingan dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dan tata kelola desa wisata.
Fokus pendampingan mencakup beberapa aspek penting, seperti tata kelola homestay, pelatihan promosi digital, pengayaan paket wisata alternatif berbasis budaya, serta simulasi layanan paket wisata live in. Keterlibatan pemuda-pemudi lokal dalam mengapresiasi dan mendokumentasikan kekayaan gastronomi serta pengalaman wisatawan live in juga menjadi perhatian utama.
Kolaborasi ini mendapatkan dukungan penuh dari Kepala Desa Tebara, Marthen Ragowino Bira. Menurutnya, dukungan lintas lembaga seperti ini sangat krusial untuk memperkuat sinergi dalam memajukan desa wisata, khususnya di wilayah Indonesia Timur. “Masyarakat tetap menjaga adat, tetapi mereka juga terbuka pada pengembangan yang berkelanjutan. Pendampingan seperti ini diharapkan menjadi contoh bagi desa wisata lain,” ujarnya saat ditemui di lokasi.

Tata Kelola Homestay: Menjamin Kualitas dan Kenyamanan
Pendampingan dimulai dengan pendataan dan dokumentasi rumah warga yang akan menjadi homestay. Tercatat sebanyak 14 unit homestay dinyatakan siap menerima wisatawan. Namun, kesiapan ini tidak hanya soal fisik bangunan, melainkan juga kesiapan keluarga pemilik rumah dalam memberikan pelayanan terbaik.
Homestay harus memenuhi standar operasional prosedur (SOP) yang ditetapkan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Adat Prai Ijing. SOP ini meliputi aspek kebersihan, kenyamanan, fasilitas dasar, serta keterlibatan aktif keluarga dalam melayani tamu. Harapannya, homestay yang lolos verifikasi dapat memberikan pengalaman tinggal yang tidak hanya nyaman, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi wisatawan.
Selain verifikasi, tim DWI yang terdiri dari Hannif Andy Al Anshori, Alfi Turni Aji, dan Adya Danastri juga menggelar sosialisasi dan pelatihan untuk para pemilik homestay. Materi pelatihan meliputi standar pelayanan minimal, protokol kebersihan, serta teknik menjamu tamu agar mereka merasa diterima dengan hangat dan profesional.
Marlin Tobu, koordinator Bidang Pengembangan Usaha sekaligus pemilik homestay, membagikan pengalamannya selama mendapatkan pendampingan dari DWI. “Dulu kami hanya menyewakan kamar, sekarang kami belajar bahwa homestay bukan hanya tempat tidur, tetapi juga cara berbagi cerita dan budaya. Wisatawan datang untuk merasakan kearifan lokal yang kami miliki.”
Pelatihan Perluasan Pemasaran
Menyadari pentingnya kehadiran di ranah digital, DWI memberikan pelatihan promosi melalui media sosial, khususnya Instagram dan TikTok, yang menyasar generasi muda Kampung Adat Prai Ijing. Para peserta yang tergabung dalam Pokdarwis diajarkan cara membuat konten visual yang menarik dan efektif untuk memperkenalkan budaya serta produk lokal mereka.
Dipandu oleh fasilitator Adya Danastri Salsabila, pelatihan meliputi teknik pengambilan gambar dan video, penyusunan narasi visual, penulisan caption yang menggugah, serta pengelolaan akun media sosial secara strategis. Selain aspek teknis, peserta juga diajak menyusun kampanye promosi yang tetap menjaga nilai budaya sebagai inti konten.
Semangat peserta begitu tinggi, mereka mulai memproduksi konten bertema kehidupan adat dan proses pembuatan kerajinan tradisional. Pelatihan ini juga menekankan pentingnya etika digital dan konsistensi agar citra Kampung Adat Prai Ijing tetap terjaga dan berkembang secara positif.
Baca juga: Pendampingan Tata Kelola, Pengelolaan Keuangan, dan Pemasaran di Kampung Adat Prai Ijing

Simulasi Paket Wisata Live In dan Cooking Class
Untuk menguji kesiapan Prai Ijing sebagai destinasi wisata, DWI kembali menggelar simulasi paket wisata live in, yang kali ini memasuki pelaksanaan ketiga kalinya. Dalam simulasi ini, para pelaku lokal berperan sebagai pemandu dan tuan rumah, memberikan pengalaman seperti menyambut wisatawan.
Kegiatan ini meliputi rangkaian acara mulai dari penyambutan adat, tur lingkungan kampung, teknik bercerita, hingga interpretasi budaya. Seluruh aktivitas didesain agar wisatawan tidak sekadar melihat dan mendengar, melainkan ikut berinteraksi langsung dengan masyarakat adat. Pengalaman ini menjadi jembatan emosional yang memperkaya hubungan antara tamu dan tuan rumah.
Bagian penting lain dari paket live in adalah penguatan gastronomi lokal. DWI bersama kelompok penyedia kuliner, yang mayoritas perempuan, menggelar cooking class yang memperkenalkan hidangan khas Sumba, seperti nasi kacang merah, ayam kuah santan, dan sayur ubi tumbuk.
Mama Bella, salah satu pemilik dapur sekaligus pelaku homestay mengatakan, “Biasanya kami memasak hidangan ini untuk acara keluarga atau syukuran. Sekarang kami tunjukkan ke wisatawan, dan mereka sangat antusias melihat proses pengolahan bahan alami dan bumbu tradisional.”
Dokumentasi kegiatan ini menjadi pijakan untuk merancang paket wisata gastronomi yang menyajikan pengalaman mencicipi sekaligus belajar memasak hidangan khas yang sulit ditemukan di restauran Sumba. Dengan demikian, makanan dan minuman dari Kampung Adat Prai Ijing bukan sekadar sajian saja, tetapi juga medium mengenal budaya Sumba secara mendalam.
Baca juga: Perempuan Penjaga Budaya dan Penggerak Ekonomi di Kampung Adat Prai Ijing


Komitmen dan Harapan untuk Masa Depan
Pembinaan dan pendampingan yang sudah berjalan sembilan bulan ini merupakan bagian dari proses panjang yang diupayakan Desa Wisata Institute untuk membangun desa wisata yang berkelanjutan, berwawasan budaya, dan memberdayakan masyarakat. Dengan bekal keterampilan digital yang makin kuat, homestay yang memberikan pengalaman autentik, serta paket wisata live in yang matang, Kampung Adat Prai Ijing diharapkan makin siap menjadi destinasi wisata budaya yang dapat menginspirasi banyak wisatawan.
Desa Wisata Institute menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi masyarakat dengan prinsip partisipasi aktif, pelestarian budaya, dan keberlanjutan ekonomi desa. Dukungan dari pemerintah desa, Pokdarwis, dan mitra strategis seperti Bakti BCA, menjadi fondasi kokoh yang memastikan Kampung Adat Prai Ijing bukan hanya siap memberikan pelayanan terbaik, tetapi juga menjadi contoh bagaimana pariwisata dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi sekaligus pelestarian lingkungan dan budaya.
Ditulis oleh:
Alfi Turni Aji S
Mahasiswa Program Magang MBKM UGM Batch III
Penyunting:
Hannif Andy Al Anshori